ketika ku tak kuasa menahan iba, akupun menyisihkan uang saku ini kepada anak itu, seorang gelandangan yang terlunta-lunta di pinggiran jalan kota kembang. Sesaat aku tak habis pikir mengapa mereka bisa sampai seperti ini, apa seburuk itukah keadaan ekonomi mereka hingga mereka sampai seperti ini? Apa orang tua mereka tidak mampu membiayai mereka? Yah itulah wacana yang sesaat terlintas di benakku ketika melihat mereka.
“Hey kemari..” aku memanggil mereka dari sebrang sana sambil melambaikan tanganku ke arah mereka.
Mereka tak menjawab, mereka hanya berisyarat menunjuk diri mereka sendiri dengan jari mereka, memastikan bahwa merekalah yang aku panggil. Dan aku pun membalasnya dengan anggukan kepala dan dengan sedikit senyuman yang menurutku tak akan cukup untuk menghibur mereka. Lalu mereka bergegas menyebrang mendekatiku.
“Iya ada apa mas?” tanya salah satu dari mereka sambil bercanda dengan temannya yang lain.
“Gak ada apa-apa kok dik, kaka cuma mau ajak kalian makan eskrim aja disana, bagaimana? mau gak nih?” tanyaku kepada mereka, sambil menunjuk pedagang eskrim yang mangkal di depan gang kecil menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
“Wah serius mas? Oke-oke makasih banget mas.” sahut mereka dengan tawa yang riang.
Tak kusangka dalam keadaan seerba kekurangan dan dengan kondisi yang mengenaskan mereka masih bisa tersenyum, tertawa, dan bercanda satu sama lain. Seakan mereka tak merasakan tanggungan mereka selama ini. Di satu sisi aku kagum terhadap mereka, mereka tak pernah menghiraukan keadaan mereka yang menurutku serba kekurangan. Tapi di sisi lain aku kasihan terhadap mereka, mungkin mereka belum tahu apa yang mereka alami, yang mereka hadapi. Mungkin suatu saat mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka saat ini.
“Oh ya kalian mau yang rasa apa nih?” Tanyaku sambil menggendong anak paling kecil diantara mereka.
“Aku mau yang pisang kak.”
“Aku coklat.”
“Kalo adek mau yang mana?” aku bertanya kepada gadis kecil yang ku gendong. Tapi dia hanya diam seakan bingung untuk memilih.
“Aku yang mana aja deh kak, yang enak.” jawabnya dengan bingung sambil tersenyum manja kearahku.
Oh tidak, aku gemas terhadap anak yang satu ini. Aku semakin iba kepada mereka. Ingin rasanya aku menangis, tapi tak mungkin. Aku harus menyembunyikan kesedihanku terhadap mereka, aku tak ingin membuat mereka bingung akan perasaanku.
Aku pun membalas senyum sang gadis kecil ini, aku melihat wajahnya penuh akan keceriaan yang terpendam, seakan ingin meluap keluar dari hatinya.
**
Matahari semakin menusukkan sinarnya ke arah badan kami. Lalu kami pun berinisiatif mencari tempat berteduh dari sinar yang membuat keringat ini bercucuran. Aku sangat merasa kepanasan, tapi kulihat mereka biasa saja. Yah mungkin mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
“Hey-hey kaka lupa belum kenalan nih. Nama kalian siapa? Ayo kita kenalan.” tanya ku sambil berjongkok didepan mereka.
“Nama ku Amin kak.”
“Aku Samsul, dan ini yang kecil namanya Sinta kak. Dia suka malu-malu kalau berbicara dengan orang yang baru dikenal.” jawab anak yang menurutku paling dewasa itu.
“Ohaha, kalo kaka namanya Angga. Salam kenal yaa.” aku mengusap rambut mereka. “Eh iya, kaka lagi buru-buru nih harus pulang kerumah, besok kita main lagi ya?”
“Yaah kak...” jawab Amin mengeluh.
“Eh min, kaka ini juga kan punya urusannya sendiri. Kan nanti besok atau lusa kita bisa ketemu lagi.”
“Iya deh, makasih ya kak traktirannya tadi.”
“Dadah kakak.” ucap Sinta kecil yang bersembunyi dibelakang kakaknya, hanya terlihat wajah dan melambaikan tangannya.
“Oke, sampai jumpa lagi yaa..” aku perlahan pergi dari mereka, aku melambaikan tangan dengan perlahan, berharap aku bisa bertemu lagi dengan mereka, para penghuni jalanan yang mencoba bertahan melawan kejamnya kehidupan ini. Kurasakan hatiku menangis, tapi aku tak menyesal telah bertemu mereka. Aku senang bertemu dengan anak-anak seperti mereka, tapi aku juga merasa sedih saat melihat kondisi mereka.
Langkah demi langkah membawaku semakin dekat dengan rumah, aku memang biasa pergi ke sekolah berjalan kaki. Karena aku ingin berbaur dan melihat dengan jelas orang-orang sekitar yang aku lewati. Dan lagian sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah.
Sesampainya dirumah akupun mencoba melupakan mereka sejenak dan mempersiapkan untuk ujian di keesokan harinya.
**
Tengg.. Bel tanda ujian telah usah berbunyi. Aku bergegas membereskan semua perlengkapan tulis ku, dan ecpat-cepat pulang untuk bertemu dengan tiga orang petualang yang telah menyita pikiranku.
Saat aku tiba di dekat perlintasan gan itu, tidak kudapati kehadiran mereka. Aku menunggu mereka hingga adzan ashar terngiang ditelingaku.
“Yah kemana mereka? Apa mereka pergi?” gumamku dalam hati. Lalu aku berinisiatif bertanya ke penjaga warung disana.
“Mas kalo anak-anak yang bertiga yang kemarin main disini kemana ya?” tanyaku kepada Ibu penjaga warung.
“Oh mereka ya mas? Mereka bukan orang sini, kayaknya sih kemarin mereka cuman numpang lewat. Yah biasalah anak-anak yang suka mengembara kemana-mana. Kemarin sih waktu Ibu tanya, katanya mereka emang suka pindah-pindah, mereka juga gak punya rumah dan keluarga.” jelasnya kepadaku.
“Oh gitu ya? makasih deh bu. Mari bu.” jawabku sambil meninggalkan warung tersebut.
Aku tak menyangka, sesaat aku kaget bukan main. Mereka yang aku perkirakan berumur antara 8 sampai 10 tahun sudah tidak mempunyai tempat tinggal dan keluarga? Kenapa tidak aku ajak saja mereka kerumahku. Mungkin aku bisa memmbantu mereka.
Sepanjang perjalan aku memikirkan keadaan mereka. Dimana mereka dan apa yang sedang mereka lakukan? apakah mereka sudah makan? apakah mereka baik-baik saja? pergumaman seperti itu terus saja berputar-putar dikepalaku.
**
“Arghhh kenapa mereka tidak menceritakan keadaan mereka kepadaku kemarin.” aku semakin menyesal dan menatap wajahku sendiri didepan cermin. “Andai saja aku bisa membaca raut wajah mereka, arti dibalik senyum mereka, dibalik kebingungan Sinta, dibalik kesedihan Amin saat aku meninggalkan mereka. Mungkin aku bisa tetap bersama mereka.”
Sesaat aku terdiam. Tak kusangka, hidup ini ternyata tidak bisa kita tebak. Bahkan anak sekecil mereka sudah harus menanggung kerasnya hidup. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah berdoa. Semoga mereka bisa bertahan dengan derasnya arus kehidupan, dan semoga mereka bisa mendayung terus kearah yang lebih baik, yang akan merubah hidup mereka sepenuhnya menjadi lebih baik.
0 comments:
Post a Comment