Artikel - Mengukur kadar Cinta?


Oke semua orang pasti tau dan sering mendengar satu kata ini, kita sering mengucapkannya, mengagung-agungkannya, menjaganya ataupun menghayatinya. tapi kita sendiri tau gak sih apa itu Cinta? Hmm... Kalo ditanya kayak gini, pasti semuanya cuman bisa terdiam seribu bahasa ibarat ketemu banci di siang bolong.

Kebetulan tadi saya baru mengikuti sebuah diskusi yang dimana membahas tentang Cinta di kehidupan remaja. Dan saya kutip pengertian Cinta dari beberapa orang, dan saya simpulkan menjadi: “Cinta adalah perasaan abstrak sebagai tanda dedikasi orang tersebut terhadap orang lain atau benda lain, dan merupakan anugrah tuhan yang sangat indah.” Oke kalimat itu memang sedikit menggelitik wkwkwk.. Nah, sekarang kita tahu apa itu Cinta, tapi tidak menutupi pendapat setiap orang. Karena pendapat setiap orang pasti berbeda-beda.

Untuk mengukur kadar Cinta sebagai tanda dedikasi kita itu ada 5 tahap:

1. Ingat

Orang yang cinta terhadap sesuatu pasti dia akan selalu mengingatnya. Misalnya, ada cowok yang mencintai cewek cantik, pasti yang dia ingat cuman cewek itu dan cewek itu lagi (kasmaran kali ya wkwkw). Begitu juga orang yang mencintai uang, yang ada dipikirannya pasti uang lagi uang lagi.

2. Mengikuti

Orang yang cinta kepada orang lain, pasti akan mengikuti apapun yang dilakukan seseorang yang dicintainya. Contoh nih biar ga pusing, ada seorang cowok yang gak suka makan pedes, tapi gara-gara gebetannya suka makan pedes dan ngajak makan malem di tempat makanan yang pedes pasti otomatis si cowok bakal mengikuti si cewek yaitu makan makanan pedes. Lalu si cowok berkata “Ih ko kita sama sih suka makan pedes.” *sambil merem melek gak jelas wkwkwkkw

3. Rindu

Yah kalo point ini sepertinya gak perlu dijelaskan deh ya xixixi

4. Cemburu


Ini sudah pasti, seseorang yang mencintai orang lain pasti akan menaruh cemburu. Baik ketika dia dekat dengan prang lain, ada orang lain yang mencoba mendekatinya selain kita, atau apapun itu. Kita pasti akan menaruh cemburu, biasanya sih disebut posesif ya haha.

5. Pengorbanan

Nah di point terakhir inilah yang menjadi paling penting, yaitu pengorbanan. Orang yang sudah cinta akan sesuatu pasti akan rela berkorban segalanya (apaan sih wkwkwk). Baik itu di bidang hobi, pacar, keluarga, atau karir pasti akan tetap dilakukan. Mereka pasti takut kehilangan hal yang dicintainya itu. Bisa kita lihat di zaman sekarang nih, sekere-kerenya cowok kere di hari ultah ceweknya pasti bakalan selalu berusaha mati-matian buat ngasih kado.

Nah jadi sekarang kita bisa mengukur kadar cinta kita sekarang berdasar point di atas. Semakin besar point nya maka semakin besar pula kadar cinta kita. Tapi ingat sebesar apapun cinta kita terhadap mahkluk jangan sampai mengalahkan kadar cinta kita terhadap sang pencipta yaitu Allah SWT.

Semoga bermanfaat !


Novel (part 12) - Pengkhianat yang Berkhianat



Hari ke-2



“Woy!, ngelamun aja kalian berdua. Masa pacaran kok diem-dieman gitu seh?” goda gue terhadap Reyna dan Andi yang lagi pacaran di depan kost-an.

“Eh elu rif ganggu aja. Ada apa?” sahut Andi.

“Gakpapa, Cuma pengen gabung aja hehe. Gue gak ganggu kalian kan?” tanya gue sekali lagi, sambil menoleh ke arah Reyna dan mengangkat alis gue beberapa kali untuk menggodanya.

“Iyaaa, gak ganggu ko ihhh..” jawab Reyna manja.

“Hahaha sorry deh sorry. Gimana kalo kita main ke taman kota aja? Sambil refreshing gitu.”

“Gimana rey?” tanya Andi.

“Okedeh, lagian gue bosen disini mulu.” jawab Reyna sambil memanyunkan bibirnya.



Kita bertiga pun bergegas pergi ke taman kota menggunakan mobil Reyna.

***

Sesampainya di taman kota Reyna langsung memarkirkan mobilnya, dan kami pun bergegas keluar untuk menikmati suasana taman kota.



“Haaa sejuknya, enak nih tiduran disini.” teriak gue sambil merebahkan diri di kursi panjang yang berada di taman.

“Eh buset, jadi lu kesini cuma pengen tidur doang? yaudah gue mau jalan-jalan aja dulu sama Reyna.” ucap Andi sambil menggandeng Reyna pergi.



“Yaa terserahlah, yang penting sekarang gue bisa menikmati suasana kayak gini. Rasanya sudah lama sekali gue gak dateng ke tempat ini. Dulu gue sering pergi ketempat ini sama Bejo. Tapi sekarang cuma gue sendiri, gak habis pikir kenapa dia pergi gitu aja ninggalin persahabatan kita.” ucap gue dalam hati sambil menatap dedaunan pohon yang rindang tepat di atas gue. Gue gak berhenti memikirkan persahabatan antara gue dan Bejo yang sudah terjalin sejak pertama kita masuk SMA, gue berharap semuanya bisa kembali seperti semula. Dimana kita berempat bisa berkumpul lagi.



Seiringnya daun berguguran di taman tersebut gue pun tertidur dengan nyenyak. Entah sudah berapa lama, mungkin sekitar 20 menit tiba-tiba Andi manggil gue dengan keras. Sontak gue kaget dan langsung bangun seketika.



“ARIF!!” teriak Andi.

“Apa woy? gausah teriak segala, gue gak budek.”

“Iya sorry, masih mau disini atau kita cabut?” ajak Andi.

“Yaudah ayo, gue males kalo harus ditinggal terus pulang sendirian.” jawab gue sambil mendekati mereka berdua.

to be continued.....

Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan


Seperti kita tahu Pancasila merupakan cerminan dari sikap dan perilaku seluruh bangsa Indonesia. walaupun kita tahu sekarang tidak semua masyarakat menerapkan dan memiliki perilaku Pancasila tersebut.

Kita ambil contoh di lingkungan sekolah. Perilaku Pancasila perlu diterapkan di setiap warganya. Karena jika kita perhatikan dengan seksama, perilaku pelajar sekarang sudah jauh bertentangan dan bahkan bertolak belakang dengan Pancasila.

Apakah pantas seorang pelajar SMA atau bahkan SMP melakukan tawuran satu sama lain? Hanya gara-gara saling ejek salah satu siswa dapat mengakibatkan tawuran antar sekolah, bahkan hingga merenggut korban jiwa. Okelah kita hargai kesetiakawanan mereka, tapi tidak dengan cara yang salah seperti ini. Jika saja mereka benar-benar menerapkan perilaku Pancasila di kehidupan mereka, mereka akan berpikir lebih jernih. Mereka akan menyelesaikan masalah sepele seperti ini dengan musyawarah dan kekeluargaan, bukannya dengan balas saling serang hingga menumpahkan darah yang percuma.

Sudah jelas bukan? Perilaku Pancasila itu sangat perlu diterapkan di seluruh kalangan, tak terkecuali kalangan pelajar. Yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Merekalah yang akan melanjutkan pembangunan negara ini. Dan merekalah yang bertugas untuk tetap menghidupkan Pancasila.

Jadi mari terapkan Pancasila di kehidupan kita, agar kita tetap menjadi pribadi yang baik, ramah, anggun, dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Novel (part 11) - Pengkhianat yang Berkhianat



“Teng-tong..” Andi menekan bel rumah yang bernomor 9 itu. Lalu seorang wanita yang tidak lain adalah Cyntia keluar dari rumah dan mempersilahkan Andi dan Reyna untuk masuk.



“Ohh Andi, sini masuk aja langsung.” ucap Cyntia sambil melayangkan senyumnya terhadap Andi.

“Okey cyn, ayo Rey kita masuk.” ajak Andi.



Mereka berdua pun masuk kerumah Cyntia, dan duduk di lantai 2 rumahnya.



“Mau minum apa nih?” Cyntia membuka obrolan mereka.

“Bebas deh, yang penting jangan panas aja hehe.” sahut Andi.

“Bi, tolong ambilin minum 2 buat temen Cyntia yah.” Teriak Cyntia memanggil pembantunya.

“Jadi kamu mau cek orang yang baru pindahan itu kan ndi?” tanya Cyntia.

“Iya nih, maksud kamu yang mana rumahnya?”

“Itu, yang depan rumah ini. Yang warna catnya kuning. Nah itu ada orangnya lagi di halaman depan.” Jawab Cyntia sambil menunjuk seseorang yang sedang berada di halaman rumah tersebut.

“Oh yang itu, bener itu yang pindah Bejo ndi?” tanya Reyna terhadap Andi.

“Maybe, gue juga gak tau nih Rey. Eh itu si Bejo bukan sih? Andi menunjuk orang yang tadi ditunjuk Cyntia.

“Jooo..!!” teriak Cyntia.

“Eh buset, lo main panggil aja! Ntar kalau ketahuan bisa berabe kita.” Ucap Andi panik.



Dari kejauhan ternyata orang yang ada di depan rumah tersebut menoleh ke arah Cyntia. Dia melambaikan tangannya sambil tersenyum dengan ramah.



“Hay..!!” teriak Cyntia dengan senyumnya.

“Hallo.” balas seseorang tersebut sambil membalas senyum Cyntia sejenak dan melanjutkan aktivitasnya lagi.



“Oh jadi itu Bejo, ramah juga ya??” ucap Cyntia polos.

“Iyaaa” jawab Andi dan Reyna yang sedikit kesal akan kelakuan Cyntia tadi.

“Wah berarti bener ya Bejo tinggal disitu. Untung aja deket coba kalau jauh gak bakalan ketemu.” ucap Reyna.



Mereka bertiga pun melanjutkan perbincangan. Sambil menikmati suguhan dari Cyntia yang memang cukup mewah yang jarang Reyna dan Andi dapatkan. Mereka berdua betah berlama-lama di rumah Cyntia, karena selain Cyntia itu orangnya menggemaskan, dia juga enak di ajak ngobrol.

Dan ternyata sekarang Cyntia tertarik untuk membantu kita bertiga. Sehingga kelompok kami menjadi berempat ditambah dengan Cyntia.

to be continued...

Novel (part 10) - Pengkhianat yang Berkhianat



“Hallo? Cyntia?”

“Iya, siapa ini?” sahut Cyntia di telepon.

“Ini gue Andi, ah masa lo lupa sih. By the way rumah lo masih di deket SMA 31 kan?”

“Oh Andi, kirain gue siapa. Iya, kenapa emangnya?”

“Di daerah lo ada orang yang baru pindahan gak?”



“Oy lagi nelpon siapa lo ndi?” gue menyela Andi.

“Ini Cyntia, temen gue yang rumahnya deket SMA 31. Kali aja dia tahu tentang Bejo hehe.” Andi tertawa kecil sambil memberi isyarat untuk jangan berisik.

“Okee.” sahut gue sambil melanjutkan menonton tv.



“Hallo Cyn masih disitu? Sorry tadi temen gue ganggu.”

“Oh iya gapapa, iya sih emang ada yang pindah baru-baru ini, kemaren gue liat ada mobil box yang nurunin barang pindahan di depan rumah gue.”

“Bagus. Gue kerumah lo sekarang ya.”

“Ehhh mau ngapain??”

“Udah tunggu aja disitu, jangan kemana-mana dulu lo.”

“Haa, iyadeh..” Cyntia menutup teleponnya.



“Haa ketemu juga...” ucap Andi sambil mengusap dahinya.

“Apanya yang ketemu?” jawab gue penasaran.

“Itu barusan gue nanya ke temen gue yang tinggal di deket SMA 31, dan ternyata ada yang baru pindahan ke depan rumahnya. Nah kali aja itu si Bejo. Kita kesana nyok!” ajak Andi.

“Ah gue males lagi tanggung, lo ajak Reyna aja.” gue lanjut tiduran.

“Yah payah, yaudah gue pergi dulu.”

***

Andi pun pergi ke rumah Cyntia bersama Reyna kekasihnya.



“Nah ini deh kalo gak salah rumahnya Cyntia.” tegas Andi.

“Yakin lo ndi? Yaudah coba masuk aja.”

to be continued....

Cerpen - Selamat Jalan Dita

by Ridwan F

Sore itu aku termenung menatap gemericik air hujan yang berjatuhan di taman. Ku merasa rindu akan sosok dirimu yang telah lama meninggalkanku dalam kesendirian. Sesaat ku lihat bayangmu masih menari di tama sana, seakan kau masih berada di dunia ini menemaniku. 

“Argh, sungguh semua ini mengingatkanku terhadap dirimu kawan.” aku bergumam dalam hati sambil menahan tangis yang seakan tak terbendung oleh hatiku. Aku tetap termenung sepanjang sore, tanpa seorangpun yang menemaniku di beranda ini.

“Kelak kita akan tumbuh dewasa dan menghadapi dunia ini bersama-sama. Walaupun jika hanya aku yang menjadi temanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan tetap memiliki satu sama lain.” tuturnya suatu kali di taman ini. “Semangatmu selalu membara seperti api.” mampu menghangatkan siapapun yang berada di sekitarnya.

“Andai saja kau masih hidup, akan ku utarakan semuanya! Semua cerita tentangmu, tentang kita! Sekalipun tak akan pernah cukup waktu untuk menceritakan semuanya.”

Tak terasa hari berganti malam, aku mulai beranjak pulang menuju rumah. Di sepanjang perjalanan aku masih bisa merasakan sosokmu, yang dulu selalu berada di sampingku saat perjalanan pulang dari taman. Masih jelas teringat raut wajahmu ketika kau tersenyum dihadapanku, dan saat kau menangis di pelukanku.

“Sudah pulang kau ham?” salam ibuku dari dalam rumah. “Cepat mandi dan makan, sudah ibu siapkan makanannya di atas meja.” ucapnya lagi.

Aku hanya mengangguk kepada ibu. Entah kenapa saat ini perasaanku sangat tak karuan, aku bingung bak seorang anak ayam yang terpisah dari induknya. Tapi yah sudahlah aku tak pantas menghubungkan masalah ini kepada keluarga ku.

“Ilham...” suara ibu memanggilku.

Aku terdiam tak menjawab panggilannya.

“Ilham...” ucapnya sekali lagi. 

Namun aku tetap terdiam, dan aku dengar suara langkah ibu mendekati kamarku.

“Ilham sudahlah, jangan kau terlalu pikirkan kematian Dita. Ini sudah takdir ham, ini keputusan Tuhan. Kau tak bisa mengelakinya. Jangan kau buat Dita bersedih di alam sana.” tutur ibuku. “Kau ini kan anak lelaki, kau harus kuat. Kau harus mulai belajar melepaskan nak.”

“Tapi bu.. Dita itu satu-satunya teman yang aku miliki! Ibu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seorang teman satu-satunya yang kita miliki! Aku terpukul bu! Terpukul!”

“Bereskanlah tangismu, tapi jangan kau sesali semua ini terlalu jauh. Berdoalah pada Tuhan, tenangkanlah dirimu.” ucap ibuku sambil meninggalkan kamarku.

Akupun mengikuti saran ibuku, malam itu aku berdoa kepada Tuhan. Berharap aku bisa melewati ini semua. Dan berharap Dita bisa tenang di alam sana.

“Ya tuhan, jika ini semua memang kehendak-Mu aku ikhlas, aku yakin kau punya rencana lain dibalik ini semua. Tapi kuatkanlah hatiku untuk menerima semua kenyataan ini.”

***

Esoknya sekali lagi aku pergi ke taman itu, aku duduk disana ditemani gugurnya dedaunan yang tertiup hembusan angin. Matahari sore menampakkan cahayanya diantara gugusan pohon-pohon yang berdiri kokoh mengitariku. Seakan menguatkan keteguhan hatiku yang sedang didera arus kepergianmu.

Aku tatap sekelompok burung di pinggir kolam dan memberinya makan. Dulu memang kau sering memberinya makan,  tapi sekarang? siapa yang akan melakukannya? dan akupun bertekad akan kugantikan posisimu. Sekilas aku teringat pesanmu dahulu saat kita pertama bertemu.

“Ingat ya, sebagai seorang sahabat jika salah satu diantara kita telah tiada maka yang masih bertahan harus bisa menggantikan posisi yang telah pergi.”

Dan baru kali ini aku tersenyum setelah kepergianmu, entah kenapa aku merasa sosokmu begitu dekat denganku kali ini. Mungkin ini yang di maksud ibuku. “Kau harus mengikhlaskan kepergian sahabatmu.” ucap ibuku pagi tadi.

Sekarang aku telah mengikhlaskan kepergianmu Dita, aku akan selalu mendoakanmu di alam sana. Akan aku lanjutkan semua mimpi yang belum terselesaikan ketika kita masih bersama. Walaupun aku sendirian, tapi akan aku coba untuk mewujudkannya sebisa mungkin.

Aku pun menoleh kembali ke taman itu, dan samar aku lihat senyummu diantara gugusan daun yang berguguran. Dan aku pun pulang dengan suasana hati yang baru, dengan semangat yang kau tanamkan kuat didasar hatiku.

“Selamat jalan Dita.”

-the end-

bandung, 25 September 2012

Novel (part 9) - Pengkhianat yang Berkhianat



“Teng-tong...” gue menekan bel rumahnya Bejo.

“Iya cari siapa mas?” ucap seorang wanita yang keluar dari rumah Bejo.



Sejenak gue terpesona, “Sejak kapan ada cewek cakep di rumahnya si Bejo?” gumam gue dalam hati.



“Bejonya ada mbak?” tanya gue.

“Bejo siapa ya mas? Disini gak ada yang namanya Bejo. Mungkin mas ini salah rumah.” jawabnya.

“Eh loh? Itu si Bejo dulu kan tinggal disini mbak, masa gak ada sih? Coba cek lagi.”

“Yee iya mas disini gak ada yang namanya Bejo, saya aja baru pindah kesini sekitar satu minggu yang lalu. Mungkin yang mas cari penghuni sebelum saya itu.”

“Ohaha sorry mbak, mbak tahu gak penghuni rumah ini sebelumnya pindah kemana?

“Waduh kurang tau ya mas, denger-denger sih ke rumah saudaranya di deket SMA 31. Tapi gatau juga sih mas.”

“Oh yaudah deh mbak, makasih atas infonya. Sory ya kalo saya ganggu.” gue senyum ke cewek itu dan pulang ke kost-an.

***

Sepanjang perjalanan dari bekas rumah Bejo ke kost-an gue terasa panjang banget. Gue terus berpikir “Ada apa dengan Bejo? Gak mungkin dia pindah dari rumah itu secara tiba-tiba, soalnya itukan rumah peninggalan kakek-neneknya. Lagian kenapa dia menghilang begitu saja dari kita bertiga. Arghh...” gak bisa gue pungkiri kecurigaan gue terhadap dia makin menjadi.



Setengah jam berlalu, akhirnya gue samai juga di kost-an tercinta.



“Oy ndi?? Masih tidur lo?” teriak gue dari pintu sambil melepas sepatu.

“Apa?” Andi menghampiri gue.

“Tau nggak? Si Bejo rumahnya pindah tuh.”

“Wah? Yang bener lu? Hm.. Pasti ada sesuatu nih. Pindah kemana dia?”

“Entahlah gak tau gue, tapi kata penghuni rumah yang baru sih dia sekarang tinggalnya di deket SMA 31. Coba deh lo cek kesana.” setelah gue selesai melepas sepatu gue langsung berjalan kedapur untuk mencari makanan.

“Oke deh.” Jawabnya singkat.


to be continued....

Novel (part 8) - Pengkhianat yang Berkhianat



Kita bertiga pun pulang ke rumah Andi, namun ternyata Ibu dan Ayahnya entah sudah pindah kemana, karena di rumah itu sudah di tinggali oleh keluarga lain. Dan sepertinya Andi terpukul mengetahui hal ini. Lalu kami putuskan untuk mencari tempat kost untuk kita bertiga.



“Disini aja gimana?” tanya gue ke Reyna dan Andi.

“Hmm.. boleh aja kalo tempatnya nyaman plus murah.” sahut Reyna.

“Gue sih gimana kalian aja.” sahut Andi.

“Yaudah disini aja, tempatnya lumayan gede, murah, dan katanya yang punya kost nya juga baik.” jawab gue.



Kita pun membereskan tempat kost tersebut, dan dengan barang seadanya yang kita punya kita mencoba membuat tempat ini senyaman mungkin.

***

Hari 1



Di ruangan kepala sekolah.

“Eh jo, lo udah suruh mereka menjauh kan?”

“Iya Pak, saya udah peringatkan mereka agar menjauh dari kasus ini, atau mereka akan di jebloskan ke dalam penjara lagi.” sahut Bejo dengan menundukkan kepalanya.

“Bagus kalau begitu, sekarang tidak ada yang akan mengganggu kita lagi. Sekarang kamu boleh keluar.”

“Oke Pak..” jawab Bejo sambil meninggalkan ruangan tersebut

***

“Oy udah siang bangun lo.” gue mengoyang-goyangkan tubuh Andi yang masih terkapar di tempat tidurnya.

“Bentar lah rif masih ngantuk gue.” dia menjawab dengan lemasnya dan kembali melanjutkan tidurnya

“Sialan lo, yaudah gue mau selidiki kasus ini lagi. Masih penasaran gue. Kalo lo nyari gue, lao tau gue ada dimana ok? Bye gue berangkat dulu”

“Siipp..” sahut Andi sambil mengigau dan mengacungkan jempol tangannya.



“Gue harus tau siapa yang ngejeblosin kita bertiga kepenjara. Apa Bejo dalang dibalik semmua ini? Nggak! Gue gak boleh buruk sangka sama dia, gue harus bener-bener punya bukti. Gue harus beresin ini semua. Gue harus memberi tahu mereka kebenaran tentang Mila yang sesungguhnya.” gue berbicara sendiri di dalam hati sambil berjalan menuju ke rumah Bejo, untuk bertanya beberapa hal ke dia.

to be continued....

Novel (part 7) - Pengkhianat yang Berkhianat

“Woy ada kalian bertiga, ada yang jenguk kalian.” Panggil salah seorang polisi sambil membuka sel kami.

Kita bertiga berpikiran sama, “Siapa yang menjenguk kita? Apakah Bejo? Atau siapa?”

Setelah sampai di ruang jenguk, kita kaget dan serempak berkata “Bejo?” Bejo hanya terdiam tampak menyesal. Gue gak tau apa yang dia pikirkan. Atau apa yang dia lakukan disini.

“Waktu kalian lima belas menit” seru polisi yang mengawal kami.

“Jo, Anj*ng lo! Pasti lo kan yang bocorin semua?!” bentak gue karena terlanjur emosi sambil menunjuk muka Bejo dengan jari gue.

“Iya jo, apa lo yang bocorin semuanya?” ucap Reyna.

“Sori rif, rey, ndi.. gue waktu itu ditodong, dan diancam dibunuh kalau gue ga kasih tau semuanya. Jadi gue bocorin semuanya. Gue gak tau harus gimana, gue bingung. Karena itu menyangkut hidup dan mati gue. Gue minta maaf gue gagal.” ucap Bejo dengan penuh penyesalan.

“Terus Cuma dengan minta maaf gitu aja lo pikir lo bisa keluarin kita bertiga? Anj*ng lo!!” Andi mulai naik darah.

“Sori, kalau dulu gue gak kasih infonya gue pasti udah mati. Gue gak mau mati ndi!! Lo ga ngerti perasaan gue saat ditodong pistol!!” Bejo mengelak.

“Yasudah, yang penting sekarang lo pikirin gimana caranya ngeluarin kita bertiga. Karena lo yang masukin kita, jadi lo juga yang harus ngeluarin kita.” usul Reyna.

“Oke, nanti gue bebasin kalian. Tunggu aja.” Bejo berdiri dan beranjak melangkah pergi.

“Woy mau kemana lo?? Tanggung jawab woyy!! Woy!!” gue mencoba mengejar dia tapi ditahan oleh polisi.



Kamipun dikembalikan kedalam sel kami masing-masing yang letaknya bersebelahan.

***

Seminggu berlalu, janji Bejo untuk membebaskan kami tak kunjung jadi kenyataan.

“Eh rey, menurut lo si Bejo serius ga ya masu bebasin kita?” gue manggil Reyna yang selnya berada di sebelah gue.

“Ya kayaknya sih gak bakalan, tapi semoga aja serius. Gue udah bosen disini, terkekang mulu.” sahut Reyna.

“Yah semoga aja serius ya.” Gue berharap.

***

1 bulan kemudian..

Akhirnya Bejo datang kembali ke sel kami, dan membebaskan kami, dan kami pun bisa menghirup udara segar lagi.

“Cieh kirain lo lupa ama kita jo, ternyata serius juga lo.” ucap Andy.

“Iyalah mana mungkin gue tega ama temen sendiri, tapi inget ya kalian jangan ungkit kasus itu lagi. Atau kalian bakalan di jeblosin lagi ke penjara.”

“Walah ko gitu sih jo? Emang nya lo udah nyerah sekarang?” gue menaruh sedikit curiga terhadap Bejo.

“Gataulah, gue bingung tentang semua ini. Angkat tangan deh gue.”

“Yowess, turunin kita bertiga di depan aja jo. Biar kita lanjut pake angkot aja.” ucap gue sambil menunjuk halte yang berada gak jauh dari mobil Bejo.


Bejo pun berhenti dan menurunkan kami di halte bis yang gue maksud tadi. Dan Bejo mewanti-wanti kita lagi supaya gak mengungkit kasus itu lagi.


“Okey hati-hati ya broo...” ucap Reyna sambil melambaikan tangan ke arah mobil Bejo yang mulai beranjak pergi.

to be continued..

Perbedaan Cowok Jomblo dan Cewek Jomblo


Oke kita pasti sering lihat di sekitar kita para jombloers baik itu cewek maupun cowok. Dan kalau kita telaah lebih jauh ke alam bawah sadar mereka, tahukan kalian ada perbedaan yang signifikan antara jombloers cowok dan jombloers cewek. Percaya gak? oke kita bahas lebih lanjut...

1# Dari segi nama panggilan.
Kalau para jombloers cowok itu biasanya di panggil sesama temen cowoknya pasti antara maho atau homo. Sedangkan para jombloers cewek pasti di panggil oleh sesama teman ceweknya dengan panggilan sayang, beb, atau apalah yang mengungkapkan kasih sayang.

2# Dari segi derajat.
Kalau cowok jomblo itu derajatnya seakan turun drastis atau di sebut 'gak laku', sedangkan para cewek yang jomblo mereka beralibi "wanita gak boleh jual murah".

3# Dari segi penampilan.
Para jombloers cowok lebih cendurung kurang rapih, berbeda saat punya pacar da gak punya pacar. sedangkan para cewek akan selalu rapih dan wangi setiap saat walaupun gak punya pacar.

4#Dari segi akun Social media.
Para jombloers cowok bakalan banyak nge-add atau nge-follow akun orang lain (cewek), sedangkan cewek yang jomblo lebih banyak meng-confirm dan jarang banget nge-follow akun cowok (kecuali di mention untuk follback).

5#Dari segi HP
Para jombloers cowok bisa mengirim sampai ke 100 nomer hp (cewek) dan yang di bales hanya beberapa saja (miris). sedangkan cewek kebalikannya, yang sms banyak tapi yang di bales cuma beberapa (senyum penuh kemenangan).

6#Dari segi pertemanan.
Cowok deket ama cowok (oke ini bukan gue banget) pasti di bilang maho. Tapi cewek dengan cewek, yaa biasa aja..

Dan yang terakhir nih yaa...

"Sejelek-jeleknya seorang cowok pasti bakalan berusaha dapetin cewek yang paling cantik" (kemungkinan dapetnya 30%)
tapi jika kita ubah jadi
"Sejelek-jeleknya seorang cewek pasti bakalan berusaha dapetin cowok yang paling ganteng" (kemungkinan dapetnya 5%)

sekian deh yaa gan haha

Musikalisasi Puisi - Vidiara



Ini adalah video Musikalisasi Puisi pertama saya.
Judul Puisi : Vidiara - Helvy Tiana Rosa
Oleh Happrila Yuliana Jayanti diiringi oleh Ridwan Firmansyah (Saya) dengan instrument Yiruma-Kiss The Rain dan di rekam oleh Ali Ibadurrahman

Sketsa Manga - Death Note

L Lawliet & Nate River


Misa Amane (Kira 2)


Light Yagami (Kira)


L Lawliet



Semua gambar di atas merupakan karakter dari anime Death Note, anime ini merupakan favorit saya.
Iseng-iseng gambar, walaupun hasilnya masih jauh dari sempurna tapi tak apalah seengganya sudah mencoba haha..

Novel (part 6) - Pengkhianat yang Berkhianat



“Brakk!!” suara pintu di dobrak. Tiba-tiba pintu gudang terbuka, dan kami telah di kepung oleh polisi. Entah sejak kapan mereka mengikuti kami bertiga.



“Anj*ng!!! Semuanya berantakan!!” gue panik sejadi-jadinya, gue mencoba lari tapi usaha gue nihil.

“Diam ditempat! Simpan tangan kalian dibelakang!” teriak salah seorang polisi.



Dan tiba-tiba Pak Sandi terbangun lagi, dan dia tersenyum dengan puas ke arah kami.



“Shit jadi tadi dia Cuma akting?” gue tertegun.

“Yap, Bapak sudah tahu rencana kalian. Apa kalian pikir Bapak bodoh? Sekarang kalian tamat!” ucap Pak Sandi.

“Bangsat!! Kesini lo!! Lawan gue!!!” Andi mencoba berontak, tapi dia dipukul polisi agar diam.

“Hah segampang ini ternyata menangkap kalian. Hahaha!” Pak Sandi tertawa sangat puas.

“Sial siapa yang bocorin rencana ini? Pasti ada salahsatu dari kita yang berkhianat.” Gue melihat muka Reyna dan Andi dengan tatapan sinis.



Dan akhirnya kami bertiga pun digiring ke kantor polisi dan ditahan atas tuduhan pembunuhan dan penculikan.

***

Di penjara kita bertiga bingung atas apa yang terjadi.



“Apa yang salah? Siapa yang bocorin rencana kita? Apakah Bejo? Atau Reyna? Atau Andi? Tapi kenapa mereka bocorin ini semua?” hati gue sedang mengalami konflik yang sangat keras.

“Rif, sudah kita sabar aja. Kita yakin kita bisa keluar dari sini.” ucap Reyna.

“Tapi kenapa semua ini bisa bocor? Jangan-jangan...” Andi kaget.

“BEJO!!” kita bertiga kompak meneriakan namanya.

“Gila!! Harusnya kita udah tau kalo dia bakalan berkhianat!” ucap Andi.

“Begitu gue keluar dari sini bakalan gue hajar tuh anak!” ucap gue dalam hati.

“Oke yang penting sekarang kita cari cara gimana caranya keluarin kita dari sini dan berusaha gimanapun caranya kita harus keluar dari sini.” Ucap Reyna.



Kita bertiga pun memikirkan cara untuk keluar, tapi semuanya gagal. Tiga bulan telah berlalu. Hingga ada seseorang datang menjenguk kita bertiga.

to be continued....

Puisi - Perhelatan Batin

hujan terlihat menaungi setiap bingkai harimu..
melukiskan kisah yang tak pernah berawal..
menggambarkan takdir yang tak pernah terjadi..
menetesi cangkir kehidupan yang tak kunjung terisi..

engkau mulai ragu akan arti semua sandiwara ini..
dua jiwa berselisih dalam satu hati..
yang selalu menjadi topik utama perhelatan di dalam batinmu..
bernuansa rindang menyusun harmoni yang tak terungkap..

arus deras mulai menggoyahkan langkahmu..
Kau pun mulai terlena akan buainya..
tebawa hingga ujung hari yang tak kau sangka..
meninggalkan semua yang belum pernah hadir di hidupmu..

by Ridwan Firmansyah 21-09-2012

Novel (part 5) - Pengkhianat yang Berkhianat


Teng.. bel pulang sekolah berbunyi, kita pun mulai menjalankan rencana kita.


“Mana si Pak Sandi? Ko belum keluar juga dia.” Bejo mulai tak sabar.

“Bentarr lah, eh itu dia!! Cepetan lo deketin dia”

“Oke oke.”



Bejo pun menghampiri Pak Sandi, dan mengobrol dengannya.



“Selamat sore Pak.” Salam Bejo

“Sore. Ada apa jo?”

“Jadi gini Pak. Saya belum bisa bayar spp bulan ini, karena ada masalah di keluarga saya. Jadi saya harap Bapak memaklumi saya.” Bejo mengobrol sambil berjalan menuju tempat parkir.

“Ohh ya santai saja kalau memang kamu tidak bisa ya jangan memaksakan diri. Bapak ngerti ko.”



Saat mereka mengobrol sambil berjalan menuju tempat parkir, Reyna dan Andi sudah siap menunggu mereka di dalam sebuah mobil di parkiran.



“Itu dia mereka hampir lewat rey. Lo siap-siap nyalain mobilnya.”

“Oke santai. Lo juga jangan sampe gagal.”



Dan saat Bejo dan Pak Sandi melalui mobil Reyna. Dengan cepat Arif membekuk tangan Pak Sandi dan membungkam tangannya. Sedangkan Andi segera membungkus kepala Pak Sandi dengan kain hitam.



“Buruan masukin, ntar ada yang liat!” gue sadar gue takut ada yang liat.

“Pak Sandi... Pak Sandi.. Woy balikin Pak Sandi..!! Maling!!” Bejo sedikit berteriak.

“Pinter juga si Bejo aktingnya.” Gue tersenyum dalam hati.



Dan kami pun berhasil menculik Pak Sandi.



“Hah dapet juga ni Bapak sialan.” Andi berkata dengan puas.

“haha jangan seneng dulu, baru aja mulai.” Kata Reyna.

“Buruan dong rey lama amat.” Gue pengen segera sampai di tempat penyanderaan



Sekitar sepuluh menit kami pun sampai di sebuah gubuk di tempat yang terpencil.

***

Kami pun memposisikan agar Pak Sandi duduk di kursi yang telah kami sediakan.



“Pak, kami tidak akan menyakiti Bapak bila berkata jujur.” Gue membuka percakapan.

“Iya betul, kami harap Bapak jujur.” susul Andi.

“Baiklah apa yang kalian mau?”

“Kami mau bertanya, sejauh mana Bapak tau tentang Mila?” Reyna bertanya dengan lembut.

“Bapak tidak tahu apa-apa. Bapak hanya suruh berpura-pura tahu tentang Mila, padahal sebenarnya Bapak tidak tahu apa-apa. Memangnya siapa kalian? Apa kalian A-B-R-A?

“Iya sebut saja kami seperti itu. Kami tidak mau Bapak ikut campur. Biar kami yang selesaikan tentang Mila. Lebih baik Bapak katakan apa yang Bapak tau.” gue kembali menegaskan.

“Mana mungkin Bapak percaya kepada kalian yang sudah menculik Bapak! Dasar pembunuh!!”

“Kami bukan pembunuh bangsat!! Jangan sembarangan nuduh.” Andi memanas dan membentak Pak Sandi.

“Kalau kalian bukan pembunuh, kenapa semua bukti mengarah ke kalian, dan yang terakhir adalah A-B-R-A yang tidak lain adalah inisial kalian ber-empat!! Kalian yang bangsat!!!”

“Pak sebenarnya kami bukan...” belum selesai Reyna berkata tiba-tiba Pak Sandi terjatuh dari kursi dan pingsan seketika.

“Pak? Bapak?” gue mencoba bangunin Pak Sandi.

“Gak mungkin, dia pingsan!” Reyna menyesal.

“Sial kenapa bisa gini? Apa dia penyakitan? Setau kita dia sehat-sehat aja deh.” tegas gue yakin.

“Terus gimana ini?” Andi panik.

“Bangunin paksa aja!!” sahut gue.

to be continued...

Angkot Sakral


Disuatu hari yang sangat terik gue sedang naik angkot (angkutan kota) yang penuh penumpang. Gue duduk di paling pojok diantara kerumunan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama yaitu sampai ke tempat tujuan.

Sepanjang perjaanan yang terngiang hanyalah kicauan para ibu-ibu dan juga anak-anak sma yang silih berganti. bak sedang berada di acara debat antar calon gubernur yang di saksikan ribuan penonton yang siap menyuraki jika kita potong perdebatan mereka. Maka dari itu niat gue untuk menyuruh mereka dia gue urungkan.

Singkat cerita gue hampir sampai di tempat tujuan, namun angkot masih penuh. Gue bingung dicampur galau, kalo gue maksa turun (dan emang harus turun) gue males harus melewati kerumunan para orang-orang asing yang berada di hadapan gue. Maklum lah tempat angkot kan sempit, kalo mau keluar dari pojokan itu rasanya kayak artis yang baru naik daun, pas lewat pasti diliatin para orang-orang asing di sekitarnya.

Setelah mengumpulkan tekad dan meluruskan niat, gue pun mengucapkan sebuah kalimat sakral pertandanya dimulainya tantangan yang harus gue hadapi yaitu "Kiri bang".

Perlahan gue beranjak dari tempat duduk dan menerobos menuju pintu keluar angkot yang rasanya berjarak 1KM lebih. Saat gue lewat, sesaat gue mencoba memperhatikan mereka dan... Buset!! ada yang liat gue dengan tatapan sini, acuh, dan juga ada yang menatap gue dengan senyum. Whoa hati gue bersorak karena ada yang melayangkan senyum ke arah gue.

Gue pun salting karena senyuman seorang insan yang tulus dan anggun yang ditujukan untuk gue. Dan.. "Brak" gue pun tersandung kaki ibu-ibu. Image gue langsung down. Jati diri gua kayak kabur dari kandangnya. Dan langsung deh gue buru-buru turun bayar angkotnya langsung ngacir menjauh dari angkot sakral tersebut.

Okeh pelajaran dari tragedi ini adalah "Jangan naik angkot yang penuh".
~

Novel (part 4) - Pengkhianat yang Berkhianat



“Huaaa... telat lagi kayaknya nih gue” gue ngeliat jam yang menunjukan jam 06:00. gue pun bergegas mandi dan ganti baju.

“Eh sialan ga ada makanan jo? Laper nih gue.”

“Suruh siapa telat.” Jawab Bejo.

“Ah sialan, yaudah berangkat aja nyok.”



Kita pun mempersiapkan apa yang dibutuhkan dan berdoa supaya rencana kita berhasil. Setelah yakin kita pun berangkat.



“Okey, kita mulai rencana kita” gue dan Bejo melangkah bersamaan munuju sekolah.

***

Di kantor kepala sekolah.

“Pak, semuanya sudah siap.” bisik seseorang kepada kepala sekolah.

“Oke saya mengerti, silahkan anda lakukan tugas anda.” kepala sekolah yang tidak lain adalah Pak Sandy memberikan perintah kepada seseorang yang menghadapnya.

***

Saat gue dan Bejo belajar di kelas, tiba-tiba speaker kelas berbunyi.

“Kepada seluruh siswa agar berkumpul di lapangan upacara.”

“Ah, shit!! Ada apa lagi ini rif?” Bejo kelihatannya panik.

“Santai kita bersikap biasa aja jo.” sahut gue.



Kami pun berjalan bersama menuju lapangan upacara. Dan berbaris di antara siswa-siswa lainnnya.



“Bapak mengumpulkan kalian karena Bapak akan mengumumkan satu hal yang sangat penting. Dan ini harus segara di umumkan. Ini mengenai Mila.” ucap kepala sekolah di depan para siswa.



Kita berdua saling menoleh, mencoba tenang.



“Apa dia udah tahu semuanya? Apa gue harus kabur? Nggak!! Gue harus tetap tenang, tapi gimana sama Reyna? Andi? Apa dia bisa tenang?” gue mengalami konflik di hati gue.

“Bapak sudah membuat tim yang menyelidiki hal ini, dan menemukan sebuah catatan di HP nya Mila, yang ada di TKP saat dia meninggal. Dan tulisan itu adalah A-B-R-A. Dan menurut Bapak itu adalah inisial sebuah nama. Jadi Bapak hanya perlu mencari tahu siapa diantara kalian yang sering ber-empat dan memiliki inisial tersebut. Dan itu tidaklah susah bagi Bapak. Maka dari itu ada baiknya bagi kalian yang merasa jadi tersangka harap mengaku, atau akan kami hukum lebih berat nanti.”

“Damn!! Selama ini Gue, Bejo, Arif, sama Andi kan selalu barengan. Bahaya nih, bisa-bisa sebentar lagi kita...” belum sempat selesai Reyna berpikir dalam hati, tiba –tiba ada yang menegurnya.

“Tenang, kita bisa beresin ini kok.” Andi melayangkan senyumnya terhadap Reyna.

“Baiklah cukup sekian yang mau Bapak sampaikan. Silahkan kalian kembali ke kelasnnya masing-masing.”



Semua siswa pun bubar dan kembali menuju kelasnya masing-masing, tak terkecuali Gue, Bejo, Reyna dan Andi.



“Okey, selama kita gak ber-empat kita akan mengulur waktu.” gumam gue di dalam hati.

“Jo, rencana kita gimana nih? Mau lanjut atau kita ubah lagi?”

“Arghh... mentok nih otak gue rif. Tanya Reyna sama Andi aja deh.”

“Ah elu gimana sih, gak serius. Yaudah gue telpon mereka dulu deh.”



Gue pergi ke wc untuk telpon dia sejenak.



“Hallo rey? Gimana nih mau lanjut aja?” tanya gue.

“Eh iya rif, lanjut aja. Ntar liat hasilnya.” Reyna langsung menutup telponnya.

“Ah sial, main tutup aja tuh anak!” gue langsung kembali ke kelas.

to be continued...

Novel (part 3) - Pengkhianat yang Berkhianat




“Ngapain kalian kesini? Bahaya tau.” Andi berkata kami dengan muka yang lemah.

“Kamu kenapa Andi? Gapapa kan? Kok kamu lemes gitu sih?” Reyna mengkhawatirkan keadaan pacarnya itu.

“Gapapa ko rey, gue cuma ga enak badan aja.”

“Syukur deh kalau begitu.” Reyna tersenyum kearah Andi.

“Ciee...” gue dan Bejo kompak ngegodain mereka.

“Ah kalian, yaudah ayo masuk aja.”



Kamipun masuk kedalam rumah Andi, dan ternyata rumah Andi tak seperti biasanya. Rumah Andi sangatlah sepi, berantakan, dan gelap tanpa ada lampu yang menyala.



“Duduk disini aja, lumayan terang nih deket jendela.” Andi mempersilahkan kami duduk.

“Ah serius? Gila sejak kapan rumah lo berubah jadi kaya tempat ujinyali kaya gini?” Bejo sepertinya sedikit takut dengan suasana rumah Andi.

“Udah lo kan cowok, masa sama beginian aja takut.” gue menenangkan Bejo.

“Oke, kalian bertiga datang kesini berarti ada yang gak beres dan sangat gawat. Ada apa?”



Gue, Bejo dan Reyna pun menjelaskan semuanya.



“What?? Kenapa dia bisa tau inisial kita berempat? Tau darimana dia?” seketika muka Andi berubah jadi pucat, dan ketakutan.

“Gue gak mau semuanya terbongkar, gue gak mau semuanya sia-sia sampai disini.” lanjutnya.

“Okey karena kita berempat yang mulai, maka kita berempat juga yang harus menyelesaikannya.” jawab Reyna dengan tenang.

“Gimana kalau kita culik aja dia.” Bejo berkata dengan yakin.

“Hah? Yang bener aja. Kalo ketahuan bisa bahaya jo.” jawab Andi.

“Gapapa ndi, kita lakuin aja dengan hati-hati jangan sampai ada kesalahan.” gue terpengaruh oleh Bejo.

“Yaudah terserah kalian.” jawab Andi dengan pasrah.

“Oke gini rencananya” Reyna memulai menyusun acara.

Kami pun menyusun rencana untuk menculik Pak Sandi.




to be continued...

Novel (part 2) - Pengkhianat yang Berkhianat



Teng.. bel sekolah berbunyi gue dan Bejo pun bergegas keluar kelas untuk bertemu Andi dan Reyna.

“Jo, mana mereka? Lama amat sih.”

“Santai, bentar lagi dateng.”



Dua puluh menit sudah kita menunggu mereka, dan akhirnya gue melihat Reyna datang, tapi dia sendirian tanpa ditemani Andi.



“Oy.. jo, rif sorry gue  telat tadi lupa gue haha.” Dengan tenangnya dia menyapa kita berdua.

“Ah lo kebiasaan rey, payah!”

“Iya bener tuh kata Bejo, payah. Ngomong-ngomong mana Andi?”

“Dia ga masuk hari ini, gatau kenapa dia ga ngasih kabar ke gue.” Reyna ikut duduk di samping gue, dan membuka catatannya yang selalu dia pakai untuk menulis hal penting yang kami diskusikan.

“Okey, jadi ada apa kalian manggil gue kesini?” Reyna membuka diskusi kami.

“Jadi gini rey, ternyata Pak Sandi udah tau tentang kita.” gue jawab dengan berbisik pada Reyna.

“Tau darimana? Mana buktinya? Jangan ngarang kalian!”

“Iya rey, kemaren Gue juga liat Pak Sandi Nulis Inisial kita berempat di papan tulis!” Bejo sedikit panik meyakinkan Reyna agar percaya.

“Oh jadi begitu, terus sekarang kita mau gimana nih?”

“Kita harus nyusun rencana buat menjebak Pak Sandi supaya dia ga bergerak lebih jauh lagi. Gimana menurut kalian jo, rey?”

“Oke gue setuju”

“Gue juga setuju, tapi gimana nasib si Andi nih. Ga tega gue di di tinggalin. Apa kita harus kerumahnya aja?” usul Reyna.

“Okelah sekarang kita kesana aja dulu, ga enak kalau cuma kita bertiga.” gue berdiri dan disusul oleh Reyna dan Bejo.



Kami pun segera pergi ke rumah Andi yang lumayan jauh dari sekolah dengan menggunakan angkutan umum.

***

“Buruan bang, pake ngetem segala ah.”

“Iya sebentar dek, sabar.”



Kita bertiga mulai kesal, tapi apa daya kita ga bisa memarahi supir angkot ini. Sekitar setengah jam kami pun sampai di depan rumah Andi”

“Kiri bang.” Reyna pun turun paling awal dari angkot dan membayar ongkosnya.

“Asik lo yang traktir ya? Hehe” Bejo menggoda Reyna sambil cengengesan.

“Ah elu kebiasaan Jo haha..” gue cuma tertawa ngeliat mereka.

Baru kita mau membuka pagar, tiba tiba Andi keluar.

to be continued...

Novel (part 1) - Pengkhianat yang Berkhianat



Pengkhianat yang Berkhianat


“Bangun jo!!” gue membangunkan teman sebangku gue yang ketiduran di kursinya.

“Apaan sih lo? gue lagi nyenyak gini!”

“Coba liat itu yang ditulis Pak Sandi di depan!”

“Apaan emang?” Bejo mengalihkan pandangannya ke papan tulis, dan sontak ia kaget.

“Lo liat kan?? Gimana nih?? bisa gawat ceritanyaa!!!”

Bejo hanya terdiam melihat tulisan yang terdapat di papan tulis tanpa menjawab sedikitpun.

***

“Sialan ngapain tu guru kampret nulis gituan di papan tulis!” Bejo berkata sambil menyalakan laptopnya.

“Tau nih, bangsat tuh orang. Cari gara-gara aja dia.” gue menyalakan PC yang ada di kostan gue ama Bejo, dan gue buka jejaring sosial untuk cari tau apa hubungannya Pak Sandi dengan semua ini.

“Ah ketemu!! Jo kesini jo cepetan, gue nemuin sesuatu nih.”

“Apaan?”

“Coba lo liat foto ini. Itu kan Pak Sandi dengan Mila!! Kenapa dia bisa sedekat itu?? Bisa gawat kalo dia sampai tau.” Bejo memukul meja makan dengan kesalnya.

“Kita harus segera selesaikan masalah ini, sebelum semua terbongkar!!”

“YA!! Siapapun yang tahu hal ini harus tutup mulut, atau mati!”

“Tunggu, kita harus hati-hati. Mungkin Pak Sandi sengaja ngelakuin hal itu supaya kita panik terus orang-orang bakalan curiga ke kita.”

“Bener juga, baik kita coba tenang dulu sambil pikirin cara beresin ini semua.”

“Oke kalau gitu kita minta bantuan Andi sama Reyna aja.”

“Boleh juga. Sekarang kita santai aja, kita lanjutin besok sama mereka.”

Gue langsung menyandarkan diri di kursi tempat gue duduk, dan mencoba untuk tenang menghadapi semua ini. “Tenang rif, semua bakalan baik-baik aja” gue mencoba menenangkan hati gue sendiri yang mulai gelisah.

to be continued....

Puisi - Wanita di Sudut Hati


Saat raut muka tak dapat lagi tersenyum, terkait luka menancap di pipi..
Ku ingin hadir dalam hidupmu diantara luka dan derita..
Dan aku akan mencoba memanggilmu dari lubuk jiwa yang tak tersentuh..
Dari kepedihan yang menjagamu di setiap sudut..

Kutatap raut wajahmu dari sebuah lubang kecil yang berada di atap hatimu..
Jauh di dasar sana terlihat jelas senyummu terpuruk dalam kekosongan..
Diam.. Hanya diam..
Namun bayangmu selalu menari di antara gelapnya sekat yang selalu memenjarakanmu..

Cukup! Hentikan!
Semua derita itu hanyalah fiksi yang tertanam di ruang fana tanpa batas..
Tidak akan pernah usai sampai kau mengalahkannya dan juga membunuhnya!
Ingat aku akan selalu menjadi perisai pelindung dirimu dari setiap hunusan pedang yang akan menikam..

Berontaklah..
Cabut paku yang selalu menancap di kakimu..
Lepaskan borgol yang selalu membelenggu setiap gerakanmu..
Dan larilah seakan kau adalah seekor rusa yang selalu siap diburu oleh setiap insan..


by Ridwan Firmansyah 20-09-2012

Akhirnya Punya Blog Baru

Kyaaaa......
Jadi juga nih blog personal gue, yah walaupun ni templatenya nyolong punya orang tapi yaa gapapa lah. (yang penting punya blog wkwkwk)
Di blog ini, tertanggal pada 20 September 2012 gue bakalan mulai menghidupi blog ini, yaa itung-itung nyatet semua yang gue temuin di sekitar gue lahh...
Kayaknya gue seneng banget yah punya blog personal? (ketawa sinis). Padahal sih sebenernya sebelumnya juga gue punya blog sihh hehe, tapi isinya tentang perhelatan di dunia komputer beserta temen-temennya. Kalo mau berkunjung sih bisa kesana aja langsung (domainsementara.blogspot.com).
Oke gak banyak bacot lagi deh..
Semoga ada yang baca tulisan sama blog gue yang jelek ini xixixi
~

Powered by Blogger.

Copyright © / Diksi Gue (Ridwan)

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger