Teng.. bel pulang sekolah berbunyi, kita pun mulai menjalankan rencana kita.
“Mana si Pak Sandi? Ko belum keluar juga dia.” Bejo mulai tak sabar.
“Bentarr lah, eh itu dia!! Cepetan lo deketin dia”
“Oke oke.”
Bejo pun menghampiri Pak Sandi, dan mengobrol dengannya.
“Selamat sore Pak.” Salam Bejo
“Sore. Ada apa jo?”
“Jadi gini Pak. Saya belum bisa bayar spp bulan ini, karena ada masalah di keluarga saya. Jadi saya harap Bapak memaklumi saya.” Bejo mengobrol sambil berjalan menuju tempat parkir.
“Ohh ya santai saja kalau memang kamu tidak bisa ya jangan memaksakan diri. Bapak ngerti ko.”
Saat mereka mengobrol sambil berjalan menuju tempat parkir, Reyna dan Andi sudah siap menunggu mereka di dalam sebuah mobil di parkiran.
“Itu dia mereka hampir lewat rey. Lo siap-siap nyalain mobilnya.”
“Oke santai. Lo juga jangan sampe gagal.”
Dan saat Bejo dan Pak Sandi melalui mobil Reyna. Dengan cepat Arif membekuk tangan Pak Sandi dan membungkam tangannya. Sedangkan Andi segera membungkus kepala Pak Sandi dengan kain hitam.
“Buruan masukin, ntar ada yang liat!” gue sadar gue takut ada yang liat.
“Pak Sandi... Pak Sandi.. Woy balikin Pak Sandi..!! Maling!!” Bejo sedikit berteriak.
“Pinter juga si Bejo aktingnya.” Gue tersenyum dalam hati.
Dan kami pun berhasil menculik Pak Sandi.
“Hah dapet juga ni Bapak sialan.” Andi berkata dengan puas.
“haha jangan seneng dulu, baru aja mulai.” Kata Reyna.
“Buruan dong rey lama amat.” Gue pengen segera sampai di tempat penyanderaan
Sekitar sepuluh menit kami pun sampai di sebuah gubuk di tempat yang terpencil.
***
Kami pun memposisikan agar Pak Sandi duduk di kursi yang telah kami sediakan.
“Pak, kami tidak akan menyakiti Bapak bila berkata jujur.” Gue membuka percakapan.
“Iya betul, kami harap Bapak jujur.” susul Andi.
“Baiklah apa yang kalian mau?”
“Kami mau bertanya, sejauh mana Bapak tau tentang Mila?” Reyna bertanya dengan lembut.
“Bapak tidak tahu apa-apa. Bapak hanya suruh berpura-pura tahu tentang Mila, padahal sebenarnya Bapak tidak tahu apa-apa. Memangnya siapa kalian? Apa kalian A-B-R-A?
“Iya sebut saja kami seperti itu. Kami tidak mau Bapak ikut campur. Biar kami yang selesaikan tentang Mila. Lebih baik Bapak katakan apa yang Bapak tau.” gue kembali menegaskan.
“Mana mungkin Bapak percaya kepada kalian yang sudah menculik Bapak! Dasar pembunuh!!”
“Kami bukan pembunuh bangsat!! Jangan sembarangan nuduh.” Andi memanas dan membentak Pak Sandi.
“Kalau kalian bukan pembunuh, kenapa semua bukti mengarah ke kalian, dan yang terakhir adalah A-B-R-A yang tidak lain adalah inisial kalian ber-empat!! Kalian yang bangsat!!!”
“Pak sebenarnya kami bukan...” belum selesai Reyna berkata tiba-tiba Pak Sandi terjatuh dari kursi dan pingsan seketika.
“Pak? Bapak?” gue mencoba bangunin Pak Sandi.
“Gak mungkin, dia pingsan!” Reyna menyesal.
“Sial kenapa bisa gini? Apa dia penyakitan? Setau kita dia sehat-sehat aja deh.” tegas gue yakin.
“Terus gimana ini?” Andi panik.
“Bangunin paksa aja!!” sahut gue.
to be continued...
0 comments:
Post a Comment