Cerpen - Selamat Jalan Dita

by Ridwan F

Sore itu aku termenung menatap gemericik air hujan yang berjatuhan di taman. Ku merasa rindu akan sosok dirimu yang telah lama meninggalkanku dalam kesendirian. Sesaat ku lihat bayangmu masih menari di tama sana, seakan kau masih berada di dunia ini menemaniku. 

“Argh, sungguh semua ini mengingatkanku terhadap dirimu kawan.” aku bergumam dalam hati sambil menahan tangis yang seakan tak terbendung oleh hatiku. Aku tetap termenung sepanjang sore, tanpa seorangpun yang menemaniku di beranda ini.

“Kelak kita akan tumbuh dewasa dan menghadapi dunia ini bersama-sama. Walaupun jika hanya aku yang menjadi temanmu, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan tetap memiliki satu sama lain.” tuturnya suatu kali di taman ini. “Semangatmu selalu membara seperti api.” mampu menghangatkan siapapun yang berada di sekitarnya.

“Andai saja kau masih hidup, akan ku utarakan semuanya! Semua cerita tentangmu, tentang kita! Sekalipun tak akan pernah cukup waktu untuk menceritakan semuanya.”

Tak terasa hari berganti malam, aku mulai beranjak pulang menuju rumah. Di sepanjang perjalanan aku masih bisa merasakan sosokmu, yang dulu selalu berada di sampingku saat perjalanan pulang dari taman. Masih jelas teringat raut wajahmu ketika kau tersenyum dihadapanku, dan saat kau menangis di pelukanku.

“Sudah pulang kau ham?” salam ibuku dari dalam rumah. “Cepat mandi dan makan, sudah ibu siapkan makanannya di atas meja.” ucapnya lagi.

Aku hanya mengangguk kepada ibu. Entah kenapa saat ini perasaanku sangat tak karuan, aku bingung bak seorang anak ayam yang terpisah dari induknya. Tapi yah sudahlah aku tak pantas menghubungkan masalah ini kepada keluarga ku.

“Ilham...” suara ibu memanggilku.

Aku terdiam tak menjawab panggilannya.

“Ilham...” ucapnya sekali lagi. 

Namun aku tetap terdiam, dan aku dengar suara langkah ibu mendekati kamarku.

“Ilham sudahlah, jangan kau terlalu pikirkan kematian Dita. Ini sudah takdir ham, ini keputusan Tuhan. Kau tak bisa mengelakinya. Jangan kau buat Dita bersedih di alam sana.” tutur ibuku. “Kau ini kan anak lelaki, kau harus kuat. Kau harus mulai belajar melepaskan nak.”

“Tapi bu.. Dita itu satu-satunya teman yang aku miliki! Ibu tidak akan pernah tau bagaimana rasanya kehilangan seorang teman satu-satunya yang kita miliki! Aku terpukul bu! Terpukul!”

“Bereskanlah tangismu, tapi jangan kau sesali semua ini terlalu jauh. Berdoalah pada Tuhan, tenangkanlah dirimu.” ucap ibuku sambil meninggalkan kamarku.

Akupun mengikuti saran ibuku, malam itu aku berdoa kepada Tuhan. Berharap aku bisa melewati ini semua. Dan berharap Dita bisa tenang di alam sana.

“Ya tuhan, jika ini semua memang kehendak-Mu aku ikhlas, aku yakin kau punya rencana lain dibalik ini semua. Tapi kuatkanlah hatiku untuk menerima semua kenyataan ini.”

***

Esoknya sekali lagi aku pergi ke taman itu, aku duduk disana ditemani gugurnya dedaunan yang tertiup hembusan angin. Matahari sore menampakkan cahayanya diantara gugusan pohon-pohon yang berdiri kokoh mengitariku. Seakan menguatkan keteguhan hatiku yang sedang didera arus kepergianmu.

Aku tatap sekelompok burung di pinggir kolam dan memberinya makan. Dulu memang kau sering memberinya makan,  tapi sekarang? siapa yang akan melakukannya? dan akupun bertekad akan kugantikan posisimu. Sekilas aku teringat pesanmu dahulu saat kita pertama bertemu.

“Ingat ya, sebagai seorang sahabat jika salah satu diantara kita telah tiada maka yang masih bertahan harus bisa menggantikan posisi yang telah pergi.”

Dan baru kali ini aku tersenyum setelah kepergianmu, entah kenapa aku merasa sosokmu begitu dekat denganku kali ini. Mungkin ini yang di maksud ibuku. “Kau harus mengikhlaskan kepergian sahabatmu.” ucap ibuku pagi tadi.

Sekarang aku telah mengikhlaskan kepergianmu Dita, aku akan selalu mendoakanmu di alam sana. Akan aku lanjutkan semua mimpi yang belum terselesaikan ketika kita masih bersama. Walaupun aku sendirian, tapi akan aku coba untuk mewujudkannya sebisa mungkin.

Aku pun menoleh kembali ke taman itu, dan samar aku lihat senyummu diantara gugusan daun yang berguguran. Dan aku pun pulang dengan suasana hati yang baru, dengan semangat yang kau tanamkan kuat didasar hatiku.

“Selamat jalan Dita.”

-the end-

bandung, 25 September 2012

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Copyright © / Diksi Gue (Ridwan)

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger