Disuatu hari yang sangat terik gue sedang naik angkot (angkutan kota) yang penuh penumpang. Gue duduk di paling pojok diantara kerumunan orang yang mempunyai visi dan misi yang sama yaitu sampai ke tempat tujuan.
Sepanjang perjaanan yang terngiang hanyalah kicauan para ibu-ibu dan juga anak-anak sma yang silih berganti. bak sedang berada di acara debat antar calon gubernur yang di saksikan ribuan penonton yang siap menyuraki jika kita potong perdebatan mereka. Maka dari itu niat gue untuk menyuruh mereka dia gue urungkan.
Singkat cerita gue hampir sampai di tempat tujuan, namun angkot masih penuh. Gue bingung dicampur galau, kalo gue maksa turun (dan emang harus turun) gue males harus melewati kerumunan para orang-orang asing yang berada di hadapan gue. Maklum lah tempat angkot kan sempit, kalo mau keluar dari pojokan itu rasanya kayak artis yang baru naik daun, pas lewat pasti diliatin para orang-orang asing di sekitarnya.
Setelah mengumpulkan tekad dan meluruskan niat, gue pun mengucapkan sebuah kalimat sakral pertandanya dimulainya tantangan yang harus gue hadapi yaitu "Kiri bang".
Perlahan gue beranjak dari tempat duduk dan menerobos menuju pintu keluar angkot yang rasanya berjarak 1KM lebih. Saat gue lewat, sesaat gue mencoba memperhatikan mereka dan... Buset!! ada yang liat gue dengan tatapan sini, acuh, dan juga ada yang menatap gue dengan senyum. Whoa hati gue bersorak karena ada yang melayangkan senyum ke arah gue.
Gue pun salting karena senyuman seorang insan yang tulus dan anggun yang ditujukan untuk gue. Dan.. "Brak" gue pun tersandung kaki ibu-ibu. Image gue langsung down. Jati diri gua kayak kabur dari kandangnya. Dan langsung deh gue buru-buru turun bayar angkotnya langsung ngacir menjauh dari angkot sakral tersebut.
Okeh pelajaran dari tragedi ini adalah "Jangan naik angkot yang penuh".
~
like
ReplyDelete