“Woy ada kalian bertiga, ada yang jenguk kalian.” Panggil salah seorang polisi sambil membuka sel kami.
Kita bertiga berpikiran sama, “Siapa yang menjenguk kita? Apakah Bejo? Atau siapa?”
Setelah sampai di ruang jenguk, kita kaget dan serempak berkata “Bejo?” Bejo hanya terdiam tampak menyesal. Gue gak tau apa yang dia pikirkan. Atau apa yang dia lakukan disini.
“Waktu kalian lima belas menit” seru polisi yang mengawal kami.
“Jo, Anj*ng lo! Pasti lo kan yang bocorin semua?!” bentak gue karena terlanjur emosi sambil menunjuk muka Bejo dengan jari gue.
“Iya jo, apa lo yang bocorin semuanya?” ucap Reyna.
“Sori rif, rey, ndi.. gue waktu itu ditodong, dan diancam dibunuh kalau gue ga kasih tau semuanya. Jadi gue bocorin semuanya. Gue gak tau harus gimana, gue bingung. Karena itu menyangkut hidup dan mati gue. Gue minta maaf gue gagal.” ucap Bejo dengan penuh penyesalan.
“Terus Cuma dengan minta maaf gitu aja lo pikir lo bisa keluarin kita bertiga? Anj*ng lo!!” Andi mulai naik darah.
“Sori, kalau dulu gue gak kasih infonya gue pasti udah mati. Gue gak mau mati ndi!! Lo ga ngerti perasaan gue saat ditodong pistol!!” Bejo mengelak.
“Yasudah, yang penting sekarang lo pikirin gimana caranya ngeluarin kita bertiga. Karena lo yang masukin kita, jadi lo juga yang harus ngeluarin kita.” usul Reyna.
“Oke, nanti gue bebasin kalian. Tunggu aja.” Bejo berdiri dan beranjak melangkah pergi.
“Woy mau kemana lo?? Tanggung jawab woyy!! Woy!!” gue mencoba mengejar dia tapi ditahan oleh polisi.
Kamipun dikembalikan kedalam sel kami masing-masing yang letaknya bersebelahan.
***
Seminggu berlalu, janji Bejo untuk membebaskan kami tak kunjung jadi kenyataan.
“Eh rey, menurut lo si Bejo serius ga ya masu bebasin kita?” gue manggil Reyna yang selnya berada di sebelah gue.
“Ya kayaknya sih gak bakalan, tapi semoga aja serius. Gue udah bosen disini, terkekang mulu.” sahut Reyna.
“Yah semoga aja serius ya.” Gue berharap.
***
1 bulan kemudian..
Akhirnya Bejo datang kembali ke sel kami, dan membebaskan kami, dan kami pun bisa menghirup udara segar lagi.
“Cieh kirain lo lupa ama kita jo, ternyata serius juga lo.” ucap Andy.
“Iyalah mana mungkin gue tega ama temen sendiri, tapi inget ya kalian jangan ungkit kasus itu lagi. Atau kalian bakalan di jeblosin lagi ke penjara.”
“Walah ko gitu sih jo? Emang nya lo udah nyerah sekarang?” gue menaruh sedikit curiga terhadap Bejo.
“Gataulah, gue bingung tentang semua ini. Angkat tangan deh gue.”
“Yowess, turunin kita bertiga di depan aja jo. Biar kita lanjut pake angkot aja.” ucap gue sambil menunjuk halte yang berada gak jauh dari mobil Bejo.
Bejo pun berhenti dan menurunkan kami di halte bis yang gue maksud tadi. Dan Bejo mewanti-wanti kita lagi supaya gak mengungkit kasus itu lagi.
“Okey hati-hati ya broo...” ucap Reyna sambil melambaikan tangan ke arah mobil Bejo yang mulai beranjak pergi.
to be continued..
Kita bertiga berpikiran sama, “Siapa yang menjenguk kita? Apakah Bejo? Atau siapa?”
Setelah sampai di ruang jenguk, kita kaget dan serempak berkata “Bejo?” Bejo hanya terdiam tampak menyesal. Gue gak tau apa yang dia pikirkan. Atau apa yang dia lakukan disini.
“Waktu kalian lima belas menit” seru polisi yang mengawal kami.
“Jo, Anj*ng lo! Pasti lo kan yang bocorin semua?!” bentak gue karena terlanjur emosi sambil menunjuk muka Bejo dengan jari gue.
“Iya jo, apa lo yang bocorin semuanya?” ucap Reyna.
“Sori rif, rey, ndi.. gue waktu itu ditodong, dan diancam dibunuh kalau gue ga kasih tau semuanya. Jadi gue bocorin semuanya. Gue gak tau harus gimana, gue bingung. Karena itu menyangkut hidup dan mati gue. Gue minta maaf gue gagal.” ucap Bejo dengan penuh penyesalan.
“Terus Cuma dengan minta maaf gitu aja lo pikir lo bisa keluarin kita bertiga? Anj*ng lo!!” Andi mulai naik darah.
“Sori, kalau dulu gue gak kasih infonya gue pasti udah mati. Gue gak mau mati ndi!! Lo ga ngerti perasaan gue saat ditodong pistol!!” Bejo mengelak.
“Yasudah, yang penting sekarang lo pikirin gimana caranya ngeluarin kita bertiga. Karena lo yang masukin kita, jadi lo juga yang harus ngeluarin kita.” usul Reyna.
“Oke, nanti gue bebasin kalian. Tunggu aja.” Bejo berdiri dan beranjak melangkah pergi.
“Woy mau kemana lo?? Tanggung jawab woyy!! Woy!!” gue mencoba mengejar dia tapi ditahan oleh polisi.
Kamipun dikembalikan kedalam sel kami masing-masing yang letaknya bersebelahan.
***
Seminggu berlalu, janji Bejo untuk membebaskan kami tak kunjung jadi kenyataan.
“Eh rey, menurut lo si Bejo serius ga ya masu bebasin kita?” gue manggil Reyna yang selnya berada di sebelah gue.
“Ya kayaknya sih gak bakalan, tapi semoga aja serius. Gue udah bosen disini, terkekang mulu.” sahut Reyna.
“Yah semoga aja serius ya.” Gue berharap.
***
1 bulan kemudian..
Akhirnya Bejo datang kembali ke sel kami, dan membebaskan kami, dan kami pun bisa menghirup udara segar lagi.
“Cieh kirain lo lupa ama kita jo, ternyata serius juga lo.” ucap Andy.
“Iyalah mana mungkin gue tega ama temen sendiri, tapi inget ya kalian jangan ungkit kasus itu lagi. Atau kalian bakalan di jeblosin lagi ke penjara.”
“Walah ko gitu sih jo? Emang nya lo udah nyerah sekarang?” gue menaruh sedikit curiga terhadap Bejo.
“Gataulah, gue bingung tentang semua ini. Angkat tangan deh gue.”
“Yowess, turunin kita bertiga di depan aja jo. Biar kita lanjut pake angkot aja.” ucap gue sambil menunjuk halte yang berada gak jauh dari mobil Bejo.
Bejo pun berhenti dan menurunkan kami di halte bis yang gue maksud tadi. Dan Bejo mewanti-wanti kita lagi supaya gak mengungkit kasus itu lagi.
“Okey hati-hati ya broo...” ucap Reyna sambil melambaikan tangan ke arah mobil Bejo yang mulai beranjak pergi.
to be continued..
0 comments:
Post a Comment